Gambar
Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Rabbmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit dari pohon Sidr.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Q.S. Saba’ : 15-17]

APAKAH SABA’ ITU?

Dalam hadits Farwah bin Musaik, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasûlullâh! Kabarkanlah kepadaku tentang Saba’! Apakah Saba’ itu? Apakah dia itu (nama) suatu tempat ataukah (nama) wanita?” Beliau pun menjawab: “Dia bukanlah (nama) suatu tempat dan bukan pula (nama) wanita, tetapi dia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” [HR Abû Dâwud no. 3988 dan at-Tirmidzi no. 3222]
Saba’ adalah suatu kabilah yang terkenal di negeri Yaman. Jadi Saba’ itu nama orang ya sodara-sodara. Nama lengkapnya adalah Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthân. Tinggal di suatu daerah bernama Ma’rib. Allâh telah memberikan kepada mereka nikmat yang sangat besar, tetapi mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut, sehingga Allâh menurunkan azab dan mencabut nikmat-Nya. Saba’ juga dikenal dengan nama ‘Abdusy-Syams (Hamba Matahari). Sebelum Islam datang, mereka mengikuti agama nenek moyangnya yaitu menyembah matahari dan bintang-bintang.

KERAJAAN SABA’

Kerajaan Saba’ berdiri sekitar abad ke-10 SM. Kerajaan ini mencapai masa kejayaan di abad ke-8 SM saat Ratu Bilqis, istri Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm, masih hidup. Bilqis termasuk keturunan Saba’ dan pernah memimpin kerajaan Saba’. Pada abad itu pulalah dibangun bendungan raksasa yang menghebohkan dunia.  Kerajaan ini berpusat di Ma’rib, suatu daerah di Yaman. Wilayah kekuasannya sangat luas sekali, meliputi: seluruh Jazirah Arab bagian selatan, Laut Merah, Iritria dan Etiopia Timur di benua Afrika.
Kerajaan Saba’ juga terkenal dengan kekuatan bala-tentaranya yang dapat mengalahkan banyak kerajaan di sekitarnya. Allâh Azza wa Jalla mengabadikan kisah Ratu Bilqis ketika dia menanyakan bagaimana pendapat pejabat-pejabatnya tentang ancaman yang datang dari Nabi Sulaiman Alaihissallam (lihat Q.S. An Naml: 33)

KEMAKMURAN KAUM SABA’

Kerajaan ini terkenal dengan hasil alamnya sehingga banyak orang yang berhijrah dan berdagang ke sana. Kerajaan yang sangat kaya dan makmur pada saat itu. Pada ayat 15 disebutkan bahwa dikanan dan kiri kerajaan ini ada dua kebun. Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. 
Qatâdah dan ‘Abdurrahmân bin Zaid, bahkan mengisahkan bila seseorang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar maka keranjang tersebut akan dipenuhi dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Widdih… mantep beneer..kebayang kan betapa makmurnya. Abdurrahmân bin Zaid menambahkan bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular.
Disebut dua kebun ya, tapi itu maksudnya bukan jumlah kebunnya dua, tetapi yang dimaksud dengan dua kebun adalah kebun satu di sebelah kiri dan kebun dua di sebelah kanan lembah. Jumlah kebunnya sendiri sangat banyak dan beragam.

BENDUNGAN MA’RIB atau ‘ARIM

Rahasia suburnya kebun-kebun tersebut karena adanya bendungan yang bisa menampung air yang sangat banyak. Bendungan itu terkenal dengan nama Ma’rib atau bendungan ‘Arim. Bendungan ini didirikan abad ke-7 atau 8 SM dengan anjang 620 m, lebar 60 m dan tinggi 16 m. Sejarah mencatat yang membangunnya adalah Raja Saba’ bin Yasyjub, beberapa buku tafsir [Tafsîr ath-Thabari dan Tafsîr al-Baghawi] menyebutkan nama Ratu Bilqis. Karena terjadi pertikaian di kaumnya dalam pemanfaatan air wâdi [Wâdi adalah sungai yang terisi air pada saat hujan saja. Adapun saat tidak ada hujan maka tanahnya akan menjadi kering], sehingga mereka saling membunuh untuk merebutnya, maka Ratu Bilqis berinisiatif untuk mendirikan bendungan itu.
Dengan adanya bendungan itu, kaum Saba’ tidak khawatir lagi dengan persediaan air dan mereka dapat memanfaatkannya untuk pengairan (irigasi) kebun-kebun mereka. Ini adalah nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allâh kepada mereka.

KEHANCURAN KAUM SABA’

Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah beliau memeluk Islam, maka kaumnya pun mengikutinya. Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ dalam keadaan bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla , hingga akhirnya kembalilah mereka ke agama nenek moyang mereka.
Allâh telah mengutus 13 rasul kepada mereka[Tafsîr al-Baghawi dan Tafsîr Ibni Katsîr]. Akan tetapi, mereka tetap tidak mau kembali ke dalam Islam. Allâh pun murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat.

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir Al-‘Arim [Q.S. Saba’ :16]

PENYEBAB HANCURNYA BENDUNGAN MA’RIB

Kehancuran bendungan Ma’rib terjadi sekitar tahun 542 M. Allâh-lah yang menghancurkan bendungan itu. Di hampir seluruh buku-buku tafsir disebutkan bahwa sebab kehancuran bendungan adalah adanya seekor tikus besar (lebih besar daripada kucing) yang diutus oleh Allâh untuk melubangi bendungan itu.
Sebab lain disebutkan oleh Ibnu ‘Âsyûr yaitu; 1) karena terjadi perang saudara di antara mereka sehingga tidak sempat memperbaiki kerusakan bendungan , dan 2) karena ulah musuh-musuh kaum Saba’ pada saat itu yang dengan sengaja menghancurkan bendungan itu . Allâhu a’lam (Allâh-lah yang Maha Mengetahui) mana yang benar dari sebab-sebab yang disebutkan. Tetapi yang jelas, Allâh-lah yang menghancurkannya sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an.
Kehancuran bendungan itu mengakibatkan hancurnya kerajaan mereka, dan banyak kerusakan lain pada kaum Saba’.

SETELAH HANCURNYA BENDUNGAN MA’RIB

Kedua kebun yang menjadi sumber penghidupan, kaya dan menjadi kekuatan mereka digantikan oleh Allâh dengan kebun yang jelek, yang tidak bermanfaat untuk kehidupan mereka. Yaitu “(pohon-pohon) yang berbuah pahit” yaitu pohon siwak (أرَاك/Toothbrush tree /Salvadora persica) dan buahnya yang pahit (dalam bahasa arab disebut barîr). Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbâs, Mujâhid, ‘Ikrimah, Athâ’, Qatâdah, Al-Hasan, As-Suddi dll.
Sedangkan pohon atsl adalah pohon tamarisk (طَرْفَاء/Tamarix aphylla). Ia sejenis pohon cemara.
Sedangkan pohon sidr adalah pohon bidara (Indian pulm/Ziziphus mauritiana) .

Dengan keadaan ini, kaum Saba’ tidak bisa bertahan, sehingga hancurlah kerajaan mereka sekitar tahun 550 M.
Mereka terpaksa harus mencari tempat tinggal baru. Enam kabilah dari kaum Saba’ berpencar di Yaman dan empat kabilah lainnya berpencar di Syam.

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh. Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Karena itu, mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.” [Q.S. an-Nahl :112-113]

Allâh mengabadikan kisah mereka di dalam al-Qur’ân dan memberi nama surat dengan nama surat Saba’. Agar orang-orang terus mengingat, membicarakan dan mengenang kisah ini. Dan tentu mengambil pelajaran, agar senantiasa dalam keadaan susah apalagi senang tetap tauhid ke Allah.

sumber:
http://almanhaj.or.id/content/3571/slash/0/pelajaran-dari-kehancuran-kaum-saba/

Gambar

Diantara ucapan paling menakjubkan ialah kata-kata seekor semut ketika bala tentara Sulaiman yang agung merambah negerinya. Bala tentara jin, insan, burung, dan hewan tertata rapi dalam barisan (Q.S. An Naml ayat 17):

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”
 
Ucapan si semut pun diabadikan dalam Al Qur’an pada ayat berikutnya (18):
حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari'”
 
Sungguh berlimpah pelajaran dari kata-kata sang semut ini.

  1. Ucapan indahnya ditujukan untuk menyelamatkan kaumnya. Ucapan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan sangat mahal nilainya. Mari kita berlatih untuk bicara hal sedemikian. Seorang muslim bicara hal yang baik; benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat dan berpahala. Atau diam. Atau setidaknya selamatkan sesama dari gangguan tangan dan lisan kita. Mari bicara mulia, menjaga jiwa, menyelamatkan hidup.
  2. Yang hendak diselamatkan semut adalah sesama semut; yang andaipun mati, tiada kan mempertanggungjawabkan ‘amal. Kalimat semut menyelamatkan semut ini dimuliakan Al Qur’an. Maka betapa lebih mulia lagi perkataan manusia untuk menyelamatkan manusia lain. Sebab hidup semut hanya soal hajat, sedang hidup manusia adalah soal amanah ibadah yang kan dipertanggungjawabkan dengan rinci.
  3. Ucapan semut ditujukan untuk menyelamatkan hidup kawan-kawannya di dunia. Ini mulia dan Allah mengabadikannya. Maka alangkah lebih mulia lagi tiap ucapan manusia yang ditujukan untuk menyelamatkan sesama di kehidupan akhiratnya. Inilah dakwah, ucapan yang merayu-rayu sesama tuk ber-ihsan dalam ‘amal dan ber-ikhlas dalam hati mengesakan Allah.
  4. Semut pemimpin mengatakaan “..Masuklah kalian ke dalam rumah tinggal (maskanah->masakin) kalian..” dr Al Muqbil berkata bahwa semutpun memiliki tempat berdiam dan berlindung bagi yang dipimpinnya. Maka hendaklah demikian. Tiap insan berusaha agar mampu menyediakan tempat berteduh dan bernaung bagi mereka yang ada dalam tanggung jawabnya. Sebab bagi insan beriman rumah bukan cuma tempat tinggal, ia juga tempat menyembah Allah, membina keluarga, dan menanamkan tauhid.
  5. Dari ucapan semut ada prasangka baik. “.. sedangkan mereka tidak menyadari.” Alangkah baik si semut dengan prasangka baik bahwa jikapun mereka terinjak pastilah itu tanpa sengaja; sebab Sulaiman dan bala tentaranya tak menyadari kehadiran para semut di bawah kaki mereka.

    sumber:

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin. Postingan kali ini agak serius, tapi penting lho untuk diketahui… apalagi sebentar lagi sang tamu istimewa, Idul adha, akan datang. Yuk, langsung aja 🙂

Al-Imam Al-Jauhari rahimahullahu menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:

1. Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ

2. Dengan mengkasrah hamzah: ‎إِضْحِيَّةٌ

Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).

3. ‎‏ ضَحِيَّةٌdengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ‎ضَحَايَا

4. ‎‏ أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى

Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil.

Dikatakan secara bahasa:
ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ‏‎ ‎مُضَحِّ
Al-Qadhi rahimahullahu menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”

Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)

Syariat dan Keutamaannya?

Read More

Selengkapnya soal hukum menggambar, dari Firman Fauzi DKV ’07.

Pipir Iyai

Bismillahirahmanirrahim,

Dimulai dari keseringan saya ditanya tentang hukum menggambar makhluk hidup, lalu beberapa saat yang lalu saya juga pernah mengisi materi di KISR-ITB tentang hal ini, tapi seperti yang telah kawan-kawan ketahui, penjelasan dari saya suka kemana-mana dan garingan-garingannya sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Oleh karena itu, saya mau berbagi ilmu dari salah satu guru besar Persatuan Islam yaitu Ahmad Hassan (alm) tentang tema ini, yang insya Allah penjelasannya lebih terstruktur dan terorganisir dengan baik.

Dalam buku Soal-Jawab tetang berbagai masalah agama yang diterbitkan CV. Dipenogoro Bandung 1968 buku pertama, A. Hassan menjelaskan dengan judul “Dari hal gambar” pada halaman 347-363. Pada buku aslinya, A. Hassan dan penyusun buku menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit kekunoan, tapi disini saya akan coba alih bahasakan ke bahasa kekinian tanpa mengurangi makna yang hendak disampaikan, dengan tujuan agar para pembaca bisa lebih cepat memahami penjelasan karena bahasanya coba saya reka agar lebih komunikatif, dan…

Lihat pos aslinya 5.675 kata lagi

surat terbuka dari RIdwansyah Yusuf Achmad terkait pemberitaan Metro TV tentang teroris.

Refleksi Panggilan Jiwa

SURAT TERBUKA UNTUK METRO TV

TENTANG PEMBERITAAN POLA REKRUTMEN TERORIS MUDA

“KAMI ANAK ROHIS BUKAN TERORIS”

Kepada Redaksi Terhomat,

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk berpikir. Salam dan Do’a terbaik kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pelajaran penting bagaimana bersikap, dan bermanfaat bagi umat manusia.

Surat terbuka ini saya sampaikan kepada Redaksi Metro TV atas tayangannya tentang “pola rekrutmen teroris muda”. Dalam tayangan tersebut, Metro TV menyampaikan lima poin tentang pola perekrutan tersebut, yakni :

  1. Sasarannya siswa SMP Akhir – SMA dari sekolah-sekolah umum
  2. Masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah
  3. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudia diajak diskusi di luar sekolah
  4. Dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa yang korup, keadilan tidak seimbang
  5. Dijejali dengan doktrin bahwa penguasa adalah toghut/kafir/musuh

Dan ditambahkan footer note “awas, generasi baru teroris!”

Redaksi terhomat,

Pertama-pertama, meski melalui akun resmi twitter anda pada 14 September…

Lihat pos aslinya 1.202 kata lagi

buka bersama – source as tagged

Ngaku deh, setiap bulan Ramadhan tiba, selalu ada perasaan gimanaaa gitu. Pokoknya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata (ceilaaah). Sebagai Negara dengan umat muslim terbanyak di dunia, Ramadhan di Indonesia memberikan kesan dan suasana yang khas.

Untuk yang pernah mengalami atau sedang mengalami ramadhan di negeri orang, tentunya kangen sama suasana Indonesia waktu Ramadhan… sekarang, siapa yang seenggaknya pernah melakukan atau mengalami hal-hal di bawah ini?

Read More

Orang Utan itu bukan orang yang di Utan. orang utan adalah sosok yang baru. orang utan adalah hewan. Samakah antara Orang dengan Orang Utan?

demikian juga Islam Liberal..

Islam liberal bukan Islam yang liberal. Islam liberal adalah sosok yang baru. dan beda dengan Islam.

cari tahu di #IndonesiatanpaJIL edisi SR, Selasa 3 April 2012, jam 4 sore, Ruang Seminar FSRD.