Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Sebelum membaca saya mau memperkenalkan tas belanja tertua yang saya punya. Saya inget banget membeli tas ini di area boulevard kampus ganesa oleh kakak-kakak mahasiswa dalam rangka kampanye Diet Kantong Plastik. Waktu itu saya beli bukan tersentuh isi kampanyenya, melainkan karena saya ke suka dengan desain si tas belanjanya. Karena itulah tas ini tidak banyak berguna sebagai tas belanja karena saya sayang pakainya wkwk..

Waktu berlalu dengan cepatnya. Setelah pindah dari satu kosan ke kosan lain lalu kemudian menikah dan pindah kontrakan beberapa kali. Ternyata si tas belanja ini tanpa sadar saya bawa serta. Saat usia saya mendekati kepala 3 barulah dia benar-benar saya digunakan. Kampanye Diet Kantong Plastik sekarang ini semakin gencar. Berbagai cara dilakukan aktivis lingkungan mulai dari sosialisasi aksi, memperkenalkan produk ramah lingkungan sampai ajakan yang bersifat life style. Jadi bawa kantong belanja sendiri itu coba dikampanyekan jadi gaya hidup kekinian, dengan tas belanja hadir aneka rupa.

Melihat fenomena ini saya jadi ingat masa kecil suka diajak ibu ke pasar. Sebelum pergi ibu biasa membawa tas belanja atau lebih teptanya keranjang belanja. Jadi jaman dulu gaya hidup kita sudah green ya. Kenapa sekarang berubah jadi serba diplastikin ya? Mari kita ulas sedikit.

Terbiasa Membawa Keranjang Belanja Sendiri
Seorang ibu usia 66 tahun menuturkan bahwa pada tahun 70-an, orang-orang kalau belanja selalu bawa keranjang belanja jadi tidak pakai kantung plastik. Saat belanja di pasar, misalnya sayur, pedagang hanya akan membungkusnya dengan kertas koran dan menyerahkan kepada pembeli yang akan menaruhnya di keranjang belanja.

sumber: lazada.co.id

Persis dengan ingatan saya antara tahun 1997-2000 sering diajak ibu ke pasar. Sejak dari rumah ibu sudah mempersiapkan keranjang belanja sendiri. Pedagang di pasar pun tidak melulu menggunakan plastik. Contohnya saja kalau beli cabe, tomat, tauge dibungkusnya pakai kertas atau majalah bekas. Tempe juga hanya tersedia yang dibungkus daun pisang. Beda dengan sekarang, lebih banyak ditawarkan tempe berbungkus plastik.

Popularitas Tas Plastik
Kegiatan belanja pada masa kini bisa dibilang berlebihan plastiknya. Kalau ke pasar tradisional atau ke penjual sayur keliling, cabai dan taoge sudah tidak dibungkus dengan kertas lagi melainkan sudah serba diplastikin. Barangkali karena koran dan kertas bekas juga susah dicari. Efek samping paperless, yang katanya produksi kertas berarti menebang pohon. Artinya bila semakin banyak kertas dipakai maka semakin banyaklah pohon yang ditebang. Demi kelestarian hutan.

Eits jangan salah. Kantong plastik ini awalnya dibuat juga berkaitan dengan isu lingkungan lho.
Kantong plastik diciptakan pada 1959 oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin, sebagai pengganti kantong kertas yang proses produksinya mengancam keberlanjutan alam (bbc.com).
Fakta yang menarik ya, tujuan awalnya mulia ternyata mengalami pergeseran menjadi bencana.
Seiring berjalannya waktu, kantong plastik membuat orang terlena dengan kenyamanan dan kepraktisannya, yang berakibat sampah menumpuk. Orang-orang tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali, tapi sekali pakai.

Belanja dengan membawa keranjang sendiri perlahan mulai ditinggalkan karena memang cukup merepotkan. Terutama bagi ibu bekerja. Tidak terbayang jika pekerja kantoran harus membawa keranjang saat belanja di hari kerja. Lebih mudah dilakukan oleh para ibu rumah tangga. Lagipula setiap belanja sudah disediakan kantong plastik oleh penjual, praktis tanpa repot. Sekalipun dikenakan kebijakan plastik berbayar, pembeli di supermarket dan minimarket lebih memilih untuk membayar saja harga plastik untuk  belanjaannya. Baik karena kondisinya sedang memungkinkan atau sudah terlena dengan kemudahan menggunakan kantong plastik.

Kontra Sampah Kantong Plastik Sekali Pakai

Kantong plastik diakui memang menunjang aktivitas hidup kita. Namun pemakaian secara massal sehingga jumlah sampah kantong plastik menjadi tidak terkendali sangat membahayakan lingkungan. Butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mengurai sampah-sampah plastik. Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik di lautan terbesar kedua di dunia dengan jumlah diperkirakan mencapai 26.000 ton per hari. Setiap hari itu lho ya, wow kan!

Fakta ini kemudian mendorong banyak pihak yang peduli lingkungan untuk bergerak. Salah satunya dengan mengadakan kampanye mengurangi penggunaan kantong plastik atau bahasa kerennya “Gerakan Diet Kantong Plastik”. Nah dari gerakan ini kemudian mulai muncul beragam kreasi-kreasi tas belanja sebagai pengganti kantong plastik.

Tas Belanja menjadi Gaya

Maraknya isu lingkungan akibat sampah plastik ini juga memunculkan kebijakan pemberlakuan kantong plastik berbayar yang terasa saat kita belanja di pusat perbelanjaan seperti supermarket dan minimarket. Saya tidak akan membahas efektif atau tidaknya kebijakan ini, namun hal ini menjadi peluang bisnis baru yaitu produk tas belanja. Sampai hari ini pun masih kita jumpai di supermraket dan minimrket memajang dagangan tas belanjanya di dekat kasir. Ya beberapa pusat perbelanjaan masih ada yang konsisten menerapkan kantong plastik berbayar. Sebagian lainnya masih menyediakan kantong belanja namun berbahan dasar kertas. Tas belanja juga ditawarkan sebagai produk kebutuhan sehari-hari dan dipajang di rak tersendiri pada sebagian toko. Desain dan bahan yang ditawarkan beragam, bahkan ada yang bagus sekali sampai kita sayang memakainya sebagai tas belanja kebutuhan dapur apalagi ke pasar tradisional.

Aneka Desain & Model Tas Belanja (gambar dari : harpersbazaar.co.id )

Selain inovasi dengan menggunakan material baru. Ada juga yang mencoba mengembalikan kejayaan keranjang belanja tempo dulu yang terbuat dari anyaman. Cara menjualnya pun unik. Tidak dijual satuan melainkan ditawarkan dalam paket souvenir, baik untuk tamu undangan pernikahan, ulang tahun hingga acara menyambut kelahiran bayi. Anyaman keranjang belanjanya pun kelihatan berkelas. Jauh dari kesan jadul.

Hampers Keranjang Anyaman (gambar: shopee.co.id )

Yuk, Bawa Tas Belanja Sendiri (lagi)!
Suatu produk yang diciptakan untuk kebaikan perlu dievaluasi swcara berkala, untuk mengecek apakah mulai terjadi penyimpangan ataukah masih sesuai visi diawal. Bencana seringkali datang karena sikap kita yang berlebihan. Jadi berhemat dan bijaknya dalam mengkonsumsi apapun.

Tulisan ini saya ikutkan ke ‘tantangan Mamah Gajah Ngeblog’

https://www.mamahgajahngeblog.com/tantangan-mgn-september-2022-mamah-dan-dunia-belanja/

Referensi:
https://www.kompasiana.com/riapwindhu/56ce9fc7e422bd7f2f562824/kata-ibu-dulu-kalau-belanja-bawa-keranjang?page=2

https://www.bbc.com/indonesia/media-50231051

Diet Kantong Plastik untuk Lingkungan Sehat

Iklan

Gambar
Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Rabbmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit dari pohon Sidr.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Q.S. Saba’ : 15-17]

APAKAH SABA’ ITU?

Dalam hadits Farwah bin Musaik, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasûlullâh! Kabarkanlah kepadaku tentang Saba’! Apakah Saba’ itu? Apakah dia itu (nama) suatu tempat ataukah (nama) wanita?” Beliau pun menjawab: “Dia bukanlah (nama) suatu tempat dan bukan pula (nama) wanita, tetapi dia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” [HR Abû Dâwud no. 3988 dan at-Tirmidzi no. 3222]
Saba’ adalah suatu kabilah yang terkenal di negeri Yaman. Jadi Saba’ itu nama orang ya sodara-sodara. Nama lengkapnya adalah Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthân. Tinggal di suatu daerah bernama Ma’rib. Allâh telah memberikan kepada mereka nikmat yang sangat besar, tetapi mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut, sehingga Allâh menurunkan azab dan mencabut nikmat-Nya. Saba’ juga dikenal dengan nama ‘Abdusy-Syams (Hamba Matahari). Sebelum Islam datang, mereka mengikuti agama nenek moyangnya yaitu menyembah matahari dan bintang-bintang.

KERAJAAN SABA’

Kerajaan Saba’ berdiri sekitar abad ke-10 SM. Kerajaan ini mencapai masa kejayaan di abad ke-8 SM saat Ratu Bilqis, istri Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm, masih hidup. Bilqis termasuk keturunan Saba’ dan pernah memimpin kerajaan Saba’. Pada abad itu pulalah dibangun bendungan raksasa yang menghebohkan dunia.  Kerajaan ini berpusat di Ma’rib, suatu daerah di Yaman. Wilayah kekuasannya sangat luas sekali, meliputi: seluruh Jazirah Arab bagian selatan, Laut Merah, Iritria dan Etiopia Timur di benua Afrika.
Kerajaan Saba’ juga terkenal dengan kekuatan bala-tentaranya yang dapat mengalahkan banyak kerajaan di sekitarnya. Allâh Azza wa Jalla mengabadikan kisah Ratu Bilqis ketika dia menanyakan bagaimana pendapat pejabat-pejabatnya tentang ancaman yang datang dari Nabi Sulaiman Alaihissallam (lihat Q.S. An Naml: 33)

KEMAKMURAN KAUM SABA’

Kerajaan ini terkenal dengan hasil alamnya sehingga banyak orang yang berhijrah dan berdagang ke sana. Kerajaan yang sangat kaya dan makmur pada saat itu. Pada ayat 15 disebutkan bahwa dikanan dan kiri kerajaan ini ada dua kebun. Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. 
Qatâdah dan ‘Abdurrahmân bin Zaid, bahkan mengisahkan bila seseorang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar maka keranjang tersebut akan dipenuhi dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Widdih… mantep beneer..kebayang kan betapa makmurnya. Abdurrahmân bin Zaid menambahkan bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular.
Disebut dua kebun ya, tapi itu maksudnya bukan jumlah kebunnya dua, tetapi yang dimaksud dengan dua kebun adalah kebun satu di sebelah kiri dan kebun dua di sebelah kanan lembah. Jumlah kebunnya sendiri sangat banyak dan beragam.

BENDUNGAN MA’RIB atau ‘ARIM

Rahasia suburnya kebun-kebun tersebut karena adanya bendungan yang bisa menampung air yang sangat banyak. Bendungan itu terkenal dengan nama Ma’rib atau bendungan ‘Arim. Bendungan ini didirikan abad ke-7 atau 8 SM dengan anjang 620 m, lebar 60 m dan tinggi 16 m. Sejarah mencatat yang membangunnya adalah Raja Saba’ bin Yasyjub, beberapa buku tafsir [Tafsîr ath-Thabari dan Tafsîr al-Baghawi] menyebutkan nama Ratu Bilqis. Karena terjadi pertikaian di kaumnya dalam pemanfaatan air wâdi [Wâdi adalah sungai yang terisi air pada saat hujan saja. Adapun saat tidak ada hujan maka tanahnya akan menjadi kering], sehingga mereka saling membunuh untuk merebutnya, maka Ratu Bilqis berinisiatif untuk mendirikan bendungan itu.
Dengan adanya bendungan itu, kaum Saba’ tidak khawatir lagi dengan persediaan air dan mereka dapat memanfaatkannya untuk pengairan (irigasi) kebun-kebun mereka. Ini adalah nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allâh kepada mereka.

KEHANCURAN KAUM SABA’

Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah beliau memeluk Islam, maka kaumnya pun mengikutinya. Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ dalam keadaan bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla , hingga akhirnya kembalilah mereka ke agama nenek moyang mereka.
Allâh telah mengutus 13 rasul kepada mereka[Tafsîr al-Baghawi dan Tafsîr Ibni Katsîr]. Akan tetapi, mereka tetap tidak mau kembali ke dalam Islam. Allâh pun murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat.

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir Al-‘Arim [Q.S. Saba’ :16]

PENYEBAB HANCURNYA BENDUNGAN MA’RIB

Kehancuran bendungan Ma’rib terjadi sekitar tahun 542 M. Allâh-lah yang menghancurkan bendungan itu. Di hampir seluruh buku-buku tafsir disebutkan bahwa sebab kehancuran bendungan adalah adanya seekor tikus besar (lebih besar daripada kucing) yang diutus oleh Allâh untuk melubangi bendungan itu.
Sebab lain disebutkan oleh Ibnu ‘Âsyûr yaitu; 1) karena terjadi perang saudara di antara mereka sehingga tidak sempat memperbaiki kerusakan bendungan , dan 2) karena ulah musuh-musuh kaum Saba’ pada saat itu yang dengan sengaja menghancurkan bendungan itu . Allâhu a’lam (Allâh-lah yang Maha Mengetahui) mana yang benar dari sebab-sebab yang disebutkan. Tetapi yang jelas, Allâh-lah yang menghancurkannya sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an.
Kehancuran bendungan itu mengakibatkan hancurnya kerajaan mereka, dan banyak kerusakan lain pada kaum Saba’.

SETELAH HANCURNYA BENDUNGAN MA’RIB

Kedua kebun yang menjadi sumber penghidupan, kaya dan menjadi kekuatan mereka digantikan oleh Allâh dengan kebun yang jelek, yang tidak bermanfaat untuk kehidupan mereka. Yaitu “(pohon-pohon) yang berbuah pahit” yaitu pohon siwak (أرَاك/Toothbrush tree /Salvadora persica) dan buahnya yang pahit (dalam bahasa arab disebut barîr). Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbâs, Mujâhid, ‘Ikrimah, Athâ’, Qatâdah, Al-Hasan, As-Suddi dll.
Sedangkan pohon atsl adalah pohon tamarisk (طَرْفَاء/Tamarix aphylla). Ia sejenis pohon cemara.
Sedangkan pohon sidr adalah pohon bidara (Indian pulm/Ziziphus mauritiana) .

Dengan keadaan ini, kaum Saba’ tidak bisa bertahan, sehingga hancurlah kerajaan mereka sekitar tahun 550 M.
Mereka terpaksa harus mencari tempat tinggal baru. Enam kabilah dari kaum Saba’ berpencar di Yaman dan empat kabilah lainnya berpencar di Syam.

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh. Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Karena itu, mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.” [Q.S. an-Nahl :112-113]

Allâh mengabadikan kisah mereka di dalam al-Qur’ân dan memberi nama surat dengan nama surat Saba’. Agar orang-orang terus mengingat, membicarakan dan mengenang kisah ini. Dan tentu mengambil pelajaran, agar senantiasa dalam keadaan susah apalagi senang tetap tauhid ke Allah.

sumber:
http://almanhaj.or.id/content/3571/slash/0/pelajaran-dari-kehancuran-kaum-saba/

Gambar

Diantara ucapan paling menakjubkan ialah kata-kata seekor semut ketika bala tentara Sulaiman yang agung merambah negerinya. Bala tentara jin, insan, burung, dan hewan tertata rapi dalam barisan (Q.S. An Naml ayat 17):

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”
 
Ucapan si semut pun diabadikan dalam Al Qur’an pada ayat berikutnya (18):
حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari'”
 
Sungguh berlimpah pelajaran dari kata-kata sang semut ini.

  1. Ucapan indahnya ditujukan untuk menyelamatkan kaumnya. Ucapan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan sangat mahal nilainya. Mari kita berlatih untuk bicara hal sedemikian. Seorang muslim bicara hal yang baik; benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat dan berpahala. Atau diam. Atau setidaknya selamatkan sesama dari gangguan tangan dan lisan kita. Mari bicara mulia, menjaga jiwa, menyelamatkan hidup.
  2. Yang hendak diselamatkan semut adalah sesama semut; yang andaipun mati, tiada kan mempertanggungjawabkan ‘amal. Kalimat semut menyelamatkan semut ini dimuliakan Al Qur’an. Maka betapa lebih mulia lagi perkataan manusia untuk menyelamatkan manusia lain. Sebab hidup semut hanya soal hajat, sedang hidup manusia adalah soal amanah ibadah yang kan dipertanggungjawabkan dengan rinci.
  3. Ucapan semut ditujukan untuk menyelamatkan hidup kawan-kawannya di dunia. Ini mulia dan Allah mengabadikannya. Maka alangkah lebih mulia lagi tiap ucapan manusia yang ditujukan untuk menyelamatkan sesama di kehidupan akhiratnya. Inilah dakwah, ucapan yang merayu-rayu sesama tuk ber-ihsan dalam ‘amal dan ber-ikhlas dalam hati mengesakan Allah.
  4. Semut pemimpin mengatakaan “..Masuklah kalian ke dalam rumah tinggal (maskanah->masakin) kalian..” dr Al Muqbil berkata bahwa semutpun memiliki tempat berdiam dan berlindung bagi yang dipimpinnya. Maka hendaklah demikian. Tiap insan berusaha agar mampu menyediakan tempat berteduh dan bernaung bagi mereka yang ada dalam tanggung jawabnya. Sebab bagi insan beriman rumah bukan cuma tempat tinggal, ia juga tempat menyembah Allah, membina keluarga, dan menanamkan tauhid.
  5. Dari ucapan semut ada prasangka baik. “.. sedangkan mereka tidak menyadari.” Alangkah baik si semut dengan prasangka baik bahwa jikapun mereka terinjak pastilah itu tanpa sengaja; sebab Sulaiman dan bala tentaranya tak menyadari kehadiran para semut di bawah kaki mereka.

    sumber:

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin. Postingan kali ini agak serius, tapi penting lho untuk diketahui… apalagi sebentar lagi sang tamu istimewa, Idul adha, akan datang. Yuk, langsung aja 🙂

Al-Imam Al-Jauhari rahimahullahu menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:

1. Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ

2. Dengan mengkasrah hamzah: ‎إِضْحِيَّةٌ

Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).

3. ‎‏ ضَحِيَّةٌdengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ‎ضَحَايَا

4. ‎‏ أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى

Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil.

Dikatakan secara bahasa:
ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ‏‎ ‎مُضَحِّ
Al-Qadhi rahimahullahu menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”

Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)

Syariat dan Keutamaannya?

Read More

Selengkapnya soal hukum menggambar, dari Firman Fauzi DKV ’07.

Pipir Iyai

Bismillahirahmanirrahim,

Dimulai dari keseringan saya ditanya tentang hukum menggambar makhluk hidup, lalu beberapa saat yang lalu saya juga pernah mengisi materi di KISR-ITB tentang hal ini, tapi seperti yang telah kawan-kawan ketahui, penjelasan dari saya suka kemana-mana dan garingan-garingannya sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Oleh karena itu, saya mau berbagi ilmu dari salah satu guru besar Persatuan Islam yaitu Ahmad Hassan (alm) tentang tema ini, yang insya Allah penjelasannya lebih terstruktur dan terorganisir dengan baik.

Dalam buku Soal-Jawab tetang berbagai masalah agama yang diterbitkan CV. Dipenogoro Bandung 1968 buku pertama, A. Hassan menjelaskan dengan judul “Dari hal gambar” pada halaman 347-363. Pada buku aslinya, A. Hassan dan penyusun buku menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit kekunoan, tapi disini saya akan coba alih bahasakan ke bahasa kekinian tanpa mengurangi makna yang hendak disampaikan, dengan tujuan agar para pembaca bisa lebih cepat memahami penjelasan karena bahasanya coba saya reka agar lebih komunikatif, dan…

Lihat pos aslinya 5.675 kata lagi

surat terbuka dari RIdwansyah Yusuf Achmad terkait pemberitaan Metro TV tentang teroris.

Refleksi Panggilan Jiwa

SURAT TERBUKA UNTUK METRO TV

TENTANG PEMBERITAAN POLA REKRUTMEN TERORIS MUDA

“KAMI ANAK ROHIS BUKAN TERORIS”

Kepada Redaksi Terhomat,

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk berpikir. Salam dan Do’a terbaik kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pelajaran penting bagaimana bersikap, dan bermanfaat bagi umat manusia.

Surat terbuka ini saya sampaikan kepada Redaksi Metro TV atas tayangannya tentang “pola rekrutmen teroris muda”. Dalam tayangan tersebut, Metro TV menyampaikan lima poin tentang pola perekrutan tersebut, yakni :

  1. Sasarannya siswa SMP Akhir – SMA dari sekolah-sekolah umum
  2. Masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah
  3. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudia diajak diskusi di luar sekolah
  4. Dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa yang korup, keadilan tidak seimbang
  5. Dijejali dengan doktrin bahwa penguasa adalah toghut/kafir/musuh

Dan ditambahkan footer note “awas, generasi baru teroris!”

Redaksi terhomat,

Pertama-pertama, meski melalui akun resmi twitter anda pada 14 September…

Lihat pos aslinya 1.202 kata lagi

buka bersama – source as tagged

Ngaku deh, setiap bulan Ramadhan tiba, selalu ada perasaan gimanaaa gitu. Pokoknya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata (ceilaaah). Sebagai Negara dengan umat muslim terbanyak di dunia, Ramadhan di Indonesia memberikan kesan dan suasana yang khas.

Untuk yang pernah mengalami atau sedang mengalami ramadhan di negeri orang, tentunya kangen sama suasana Indonesia waktu Ramadhan… sekarang, siapa yang seenggaknya pernah melakukan atau mengalami hal-hal di bawah ini?

Read More

Orang Utan itu bukan orang yang di Utan. orang utan adalah sosok yang baru. orang utan adalah hewan. Samakah antara Orang dengan Orang Utan?

demikian juga Islam Liberal..

Islam liberal bukan Islam yang liberal. Islam liberal adalah sosok yang baru. dan beda dengan Islam.

cari tahu di #IndonesiatanpaJIL edisi SR, Selasa 3 April 2012, jam 4 sore, Ruang Seminar FSRD.

Oleh Kang Taqi

Membaca judul di atas, kemungkinan di antara pembaca menyangka tulisan ini akan berbicara seputar bisnis yang akan dikaitkan dengan shalat. Mungkin pula ada yang beranggapan, tulisan ini akan mengarah kepada perilaku shalat yang dihubungkan dengan bisnis. Sebelum menebak-nebak isi tulisan ini, Saya akan memberikan sebuah analogi atau simulasi sederhana.

Seorang pedagang kelontong, misalnya, ketika ia berdagang tentunya ia mengharapkan untung. Bila ia bermodalkan Rp10 juta untuk semua usahanya, kemungkinan ia akan mengharapkan untungnya berkisar antara Rp1 juta s.d. Rp5 juta. Apabila uang yang kembali hanya Rp10 juta, berarti hanya kembali modal saja. Tidak ada untungnya. Apakah akan memuaskan pedagang tadi? Andaikata Anda berada di posisi pedagang, kemungkinan Anda merugi. Tidak ada untung yang dicapai, bahkan yang ada hanya ‘capek’.

Analogi di atas akan Saya pakai dalam praktek shalat. Dalam beribadah kita sering mengharap pahala. Itu pasti. Menjalankan perintah Allah, itu sebuah kewajiban, dan berbuah pahala besar. Hanya pertanyaannya, apakah cukup hanya dengan menjalankan kewajiban semata? Bahkan tidak sedikit di antara umat Islam yang mendirikan shalat hanya sekedar menggugurkan kewajiban? Inilah yang akan menjadi poin penting pembahasan tulisan ini.

Shalat Fardlu seperti Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, Magrib, dan ‘Isya; itu merupakan kewajiban. Dijalankan, ya memang wajib. Ditinggalkan, ya akan berdosa. Intinya, bila dalam urusan bisnis, shalat fardlu merupakan modal. Jadi, jika kita hanya mendirikan shalat fardlu semata, kita hanya memperoleh pahala ‘modal’. Kenapa disebut modal, karena kita hanya memperoleh pahala dari ibadah yang memang wajib. Ingat dengan urusan bisnis, kapital (SDA, finansial, SDM) itu penting. Tanpa kapital, sebuah usaha bisnis kemungkinan tidak akan berjalan. Bila dalam usaha bisnis hanya kembali modal saja, berarti tidak ada untungnya.

“Lantas, apa di mana untungnya?”, Anda pasti bertanya demikian. Shalat sunnat adalah untungnya. “Lha, kok bisa? Wajib kan lebih penting. Sunnah kan hanya anjuran!” salah seorang di antara Anda mungkin ada yang berkilah demikian.

Shalat wajib memang lebih utama, tapi itu memang kewajiban. Mau tidak mau, ya harus dijalankan. Tidak boleh ditinggalkan. Namun, di saat mendirikan ibadah wajib, Rasulullah Saw pun menganjurkan kita mengikuti sunnahnya. Dan, sunnah itulah merupakan keuntungan atau nilai plus-nya. Ibarat Anda berbisnis, Anda pun tidak hanya mendapatkan ‘balik modal’ dari ibadah wajib, tapi Anda akan mendapatkan untung, atau istilah lainnya ialah nilai ‘plus’.

Tulisan ini memang tidak terlalu sarat dengan referensi jelas, namun Saya berusaha merasionalisasikan perilaku shalat, agar setiap kita merasa termotivasi dengan apa yang kita lakukan. Saya melihat sebagian di antara kita masih ada yang ‘mendirikan’ shalat sekedar ‘melaksanakan’. Ingat, ‘melaksanakan’ dan ‘mendirikan’ itu berbeda. Dalam Alquran, perintah shalat menggunakan kata ‘iqamah’ yang berarti mendirikan, sedangkan perintah zakat Menggunakan kata ‘ataa-atuu-utia” yang berarti menunaikan. Kenapa harus ada mendirikan dan menunaikan? Nanti Saja kita bahas di forums selanjutnya.

Kembali ke poin tulisan ini. Mengakhiri tulisan ini, shalat memang ritual spiritual belaka yang ditujukan kepada Allah Ta’ala. Tulisan ini pada dasarnya ditujukan bagi masyarakat perkotaan yang haus dan skeptis terhadap perilaku ritual, namun tidak menutup kemungkinan bila tulisan ini bisa diterima halayak lainnya. Maka dari itu, Saya ingin memberikan motivasi dan kesadaran betapa pentingnya ibadah sunnah, tanpa mengenyampingkan ibadah wajib. Dengan menjalankan ibadah sunnah, tentunya kita tidak akan menapikan ibadahn wajib. Ibadah wajib dan sunnah ini tidak sebatas dalam shalat, namun bagi lingkup ibadah-ibadah lainnya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita untuk senantiasa menegakkan wajib dan menghidupkan sunnah.

Mohon maaf bila ada yang tidak sepakat dengan tulisan ini.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

dari blognya KOMMA Bogor

Assalamualaikum! Masih ingat November 2011 kemarin KISR mengadakan acara jalan-jalan? Buat yang kemarin nggak sempat ikut, ini dia dokumentasinya!

zeiss

Teleskop Zeiss, sering dikira 'Bosscha', sebetulnya merupakan bagian dari Observatorium Bosscha.

bosscha 1

bagain depan bosscha yang ketutupan kita. ha ha ha

Tujuan kita kali ini, Observatorium Bosscha. Observatorium Bosscha adalah sebuah lembaga penelitian dengan program-program spesifik yang berada di bawah tanggung jawab Fakultas MIPA ITB. Fasilitas ini dibuka untuk umum, tapi hanya untuk waktu-waktu tertentu saja.

Ngapain aja sih di sana? yang utama tentu saja jalan-jalan. Dari ITB pagi-pagi, berangkatlah 4 angkatan KISR (2007-2008-2009-2010) dan rombongan TPB naik angkot carteran (hehehe), sempat nyasar sedikit, tapi Alhamdulillah sampai di Bosscha tepat waktu untuk menyaksikan presentasi tentang Alam semesta.

Read More